W-Engine Effect
???
???
Saat pengguna dengan Atribut Ice melancarkan Special Attack atau EX Special Attack, Ice DMG yang diakibatkannya meningkat 20% selama 40 detik, dapat ditumpuk hingga 2 lapis. Hanya dapat terpicu satu kali dari satu Skill yang sama. Memicu ulang akan memperbarui durasi. Saat memiliki 2 lapis, DMG Abloom yang diakibatkan Agen meningkat 35%.
Terminating Verdict
Terminating Verdict
Saat pengguna dengan Atribut Ice melancarkan Special Attack atau EX Special Attack, Ice DMG yang diakibatkannya meningkat 20% selama 40 detik, dapat ditumpuk hingga 2 lapis. Hanya dapat terpicu satu kali dari satu Skill yang sama. Memicu ulang akan memperbarui durasi. Saat memiliki 2 lapis, DMG Abloom yang diakibatkan pengguna meningkat 35%.
Description
Genggam erat cita-cita yang goyah.
Berlari dan berteriak di tanah merah yang gersang, lalu tertidur, dan saat terbangun sudah dewasa.
Memilih belenggu yang mengikat diri.
Bertahan hidup sebagai pisau tajam, menyelidiki, menginterogasi, memburu, tanpa henti, mati rasa dan dingin.
Menunggu vonis yang dijanjikan.
Bersama tunas baru yang membusuk, melangkah ke musim dingin, hingga menyambut harapan terakhir kehidupan—kematian, hangat, dan damai. Jalankan hukuman, hingga akhir zaman tiba.
Berlari dan berteriak di tanah merah yang gersang, lalu tertidur, dan saat terbangun sudah dewasa.
Memilih belenggu yang mengikat diri.
Bertahan hidup sebagai pisau tajam, menyelidiki, menginterogasi, memburu, tanpa henti, mati rasa dan dingin.
Menunggu vonis yang dijanjikan.
Bersama tunas baru yang membusuk, melangkah ke musim dingin, hingga menyambut harapan terakhir kehidupan—kematian, hangat, dan damai. Jalankan hukuman, hingga akhir zaman tiba.
Ia memegang teguh cita-cita yang goyah.
Ia berlari, berteriak melintasi tanah merah yang tandus, lalu tertidur, dan tiba-tiba sudah dewasa saat terbangun.
Ia memilih belenggu yang mengikat diri.
Ia hidup seperti pisau tajam, menyelidiki, menginterogasi, memburu, tanpa henti, mati rasa dan dingin.
Ia menunggu keputusan yang dijanjikan.
Ia memetik tunas baru yang membusuk, melangkah ke musim dingin, hingga menyambut harapan terakhir kehidupan — kematian, kehangatan, dan kedamaian. Laksanakan penghakiman hingga akhir tiba.
Ia berlari, berteriak melintasi tanah merah yang tandus, lalu tertidur, dan tiba-tiba sudah dewasa saat terbangun.
Ia memilih belenggu yang mengikat diri.
Ia hidup seperti pisau tajam, menyelidiki, menginterogasi, memburu, tanpa henti, mati rasa dan dingin.
Ia menunggu keputusan yang dijanjikan.
Ia memetik tunas baru yang membusuk, melangkah ke musim dingin, hingga menyambut harapan terakhir kehidupan — kematian, kehangatan, dan kedamaian. Laksanakan penghakiman hingga akhir tiba.

